Jumat, 19 Desember 2014

Refleksi Sastra Barat dan Pengaruhnya Terhadap Jiwa Manusia


Catatan Pribadi pada Diskusi Pekanan DISC Masjid UI Pertemuan ke-11

Diskusi Pekanan DISC Masjid UI
Diskusi Pekanan DISC Masjid UI



Oleh: Warsito

Sastra dalam dunia modern dianggap tidak ilmiah dan anti ilmu, tidak sesuai gramatika dan dianggap tidak penting. Para kritikus sastra selalu berambisi untuk mengungkap tema dalam teks sastra, apa maksud dari pengarang. Sedang dalam zaman postmodernisme sastra ditempatkan dalam sesuatu yang menjadi teks, yang sangat kuat dalam postmodernisme, tumbuhan adalah teks, kehidupan adalah teks. Dalam dunia barat pun sastra itu berubah, dahulu sastra digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita tentang para Dewa. Kemudian pada zaman theologi sastra digunakan untuk menyampaikan ajaran Tuhan, dan di zaman filsafat sastra itu digunakan untuk mengkritik atau mengejek para pemikir, mengejek suatu keyakinan, seperti yang dilakukan oleh Aristophanes di zaman Yunani yang memainkan ironi yaitu menggunakan kata-kata untuk mengkritik kata-kata lewat tulisan teater komedinya. Persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang liberal saat ini, yang mengolok-olok agama. Sebenarnya sastra di zaman modern itu agak tersisih, seperti diawal disebutkan bahwa sastra di zaman modern itu dianggap tidak ilmiah dan anti ilmu. Misalkan dalam ilmu bahasa, sastra dianggap tidak sesuai dengan gramatika yang kemudian sastra dianggap tidak penting. Dan di zaman modern, keindahan itu dipahami dengan sangat struktural.

Strukturalisme menjelaskan bahwa bagian-bagian akan berhubungan menciptakan keseluruhan, dan keseluruhan adalah terdiri dari bagian-bagian. Strukturalisme lebih jauh lagi akan menjelaskan bahwa sastra terdiri dari bagian-bagian seperti alur, tema dan lain sebagainya dan jika kita ingin memahami sastra maka kita gunakan cara itu yaitu pembagian-pembagian dari karya sastra, alurnya seperti apa, temanya bagaimana, protagonis siapa antagonis siapa, itulah yang dicari di zaman modern tentang sastra. Zaman postmodernisme kemudian melepaskan sastra dari hal-hal yang seperti tadi disebutkan. Kalau Anda ingin memahami teks, maka pahami saja, tidak perlu mencari mana alur, mana tema, karena satu tema dalam suatu puisi itu buat Saya dan buat Anda itu pasti berbeda pandangan.


Sastra dalam dunia barat selalu dipahami sebagai sebuah konsekuensi logis, yaitu jika kita sakit maka kita akan menyatakan kesakitan itu, jika kita luka maka kita nyatakan luka kita itu. Jika sedih maka kita nyatakan kesedihan kita, jadi sastra sebagai seperti cerminan hidup yang kita jalani, suatu penebusan dari rasa sakit kita, rasa sedih kita. Jadi di barat, jika mereka sakit, mereka sedih maka mereka menebus rasa sakit dan sedih mereka dengan menulis puisi, puisi adalah penebusan dari rasa bersalah, penebusan dari rasa berdosa yang mereka lakukan, begitulah sastra yang dipahami di barat. Puisi adalah ungkapan-ungkapan pengalaman batin manusia, begitu kira-kira yang barat pahami tentang sastra, sastra adalah ungkapan pengalaman batin manusia tentang hidup. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa dari zaman modern sampai postmodern makna sastra selalu tragedi, karena manusia sedih melihat dunia ini maka manusia menulis sastra. Maka dari itu di barat tidak ada kita temui puisi tentang mengagungkan Tuhan, yang menggambarkan ketika kita melihat Tuhan maka kita melihat keagungan, mereka kesulitan membuat itu.


Luka, kesedihan, keterasingan, penderitaan, rasa bersalah oleh orang-orang barat kemudian akan dirayakan melalui sastra, maka sastra pada akhirnya adalah rasa luka manusia terhadap hidup karena mereka tidak tahu hidup ini apa. Mereka tidak tahu ketika mereka lahir di dunia dengan tujuan apa, 4 pertanyaan tentang hidup yang biasanya mereka tanyakan adalah dari mana kita berasal, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, apa tujuan hidup kita, dan kemana kita setelah mati, hal ini bisa kita temui melalui syair syair lagu dari barat. Dan dari semua pertanyaan itu tidak ada satupun dari pertanyaan itu yang bisa mereka jawab dan mereka tidak akan bisa mendapat jawaban, berbeda dengan kita ummat Islam, kita telah mendapat pedoman hidup melalui Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan barat menganggap bahwa kelahiran manusia ke dunia ini adalah sebagai sebuah penderitaan, nasib yang paling buruk menurut mereka adalah dilahirkan ke dunia ini. Secara natural manusia memang butuh sebuah asupan spiritual untuk mengisi hatinya dengan sesuatu yang batini, sebuah hidangan yang dinikmati oleh jiwa agar tidak terjadi kehampaan hidup dan untuk mendapatkan hati yang tenang, hal inilah yang tidak didapatkan oleh orang-orang barat. Pada hakekatnya manusia memang selalu mencari-cari jawaban tentang 4 pertanyaan itu, tetapi orang barat tidak pernah menemukanya. Maka kemudian yang terjadi adalah orang-orang barat mengisi kekosongan batin mereka dengan menciptakan puisi-puisi tragis, sastra yang tragis. Bisa dikatakan batin orang barat adalah puisi tragis yang menggambarkan hidup mereka yang juga tragis, sastra tragis adalah batinya orang barat bagi kehidupan mereka yang juga tragis.


Tanpa ada asupan spiritual untuk jiwa, manusia tidak bisa hidup. Maka kemudian barat memasukan nilai-nilai tragedi dalam sastra mereka, nilai-nilai kesengsaraan, penderitaan, absurditas yang kemudian sastra itu menjadi cerminan, sebagai batin hidup mereka, katarsis, pengungkapan emosi terpendam dengan cara menulis. Kemudian muncul pertanyaan, dengan telaah diatas tentang sastra barat, baikkah kita memahami, mempelajari, memamah, mengkonsumsi sastra barat? Jawabanya tentu saja tidak, sastra barat yang penuh dengan tragedi, ungkapan-ungkapan batin yang penuh penderitaan karena jiwa mereka yang tidak dipenuhi asupan spiritual, memamah komedi-komedi yang pada hakekatnya mentertawakan luka akan merusak jiwa orang yang membaca dan mengkonsumsi sastra mereka. Batin kita sebagai manusia tidak bisa diasupi sastra macam itu. Contoh konkret di zaman ini adalah acara-acara komedi seperti “Stand Up Komedi”, sebenarnya apa yang mereka tertawakan? Raditya Dika itu mentertawakan kesengsaraan dia, tentang dia yang kita semua sama tau dia mengejek dirinya, mentertawakan dirinya dengan wajah yang jelek, tubuh yang pendek, kecil, lalu takdir yang buruk sebagai laki-laki yang jomblo selalu ditolak oleh wanita, itulah yang dia tertawakan secara terus menerus.


Itulah bagian dari tragedi yang berasal dari teori sastra barat, cara pandang yang buruk terhadap kehidupan bahwa hidup adalah tak lebih dari sebuah tragedi dan itu terus diproduksi. Coba kita bayangkan, kalau seseorang itu memamah secara terus menerus kebudayaan macam itu, lagu-lagu barat seperti Jhon Lennon, Nirvana, Queen dan lain sebagainya, betapa merusaknya batin yang ada dalam jiwa, betapa menghancurkannya cara pandang mereka tentang kehidupan ini. Kita pada akhirnya diajak untuk merayakan luka, merutuki nasib dan membenci segala otoritas, itulah tujuan sastra barat terhadap hidup.


Kita akan tengok mereka-mereka yang sering menonton drama Korea, sebenarnya mereka sedang lari dari suatu penderitaan kepada perayaan, lihat mereka selalu ceria, tertawa, cantik, tampan, hebat, luar biasa, terkenal tetapi dia juga selalu terluka selalu tidak bahagia. Kenapa JKT48 itu selalu bergembira? Apa yang mereka gembirakan disaat keadaan Indonesia seperti ini? Kenapa mereka harus selalu gembira? Mereka masuk SMA gembira, lalu apa alasan mereka bergembira? Loncat-loncat, tertawa-tawa, berputar-putar, apa yang membuat mereka bahagia? Apa yang membuat mereka gembira kalau cerita yang mereka bangun adalah seorang dari mereka jatuh cinta dengan laki-laki lalu laki-laki itu tidak cinta dengan dia lalu kenapa mereka bergembira?


Banyak hal tentang artis yang orang awam tidak tahu apa yang ada dibelakang mereka, disisi kehidupan mereka banyak yang tidak terungkap. Seperti bintang musik barat Kurt Cobain, suatu waktu dia berkata,”Dahulu aku memimpikan tepuk tangan dan penghargaan dari sekian ribu orang, tapi kini, ketika saya menyanyi di panggung dan semua orang bertepuk tangan untuk saya seketika itu saya merasa muak”. Beberapa artis tanah air memiliki seorang yang bisa disebut sebagai “Guru Spiritual” yang apabila mengadakan pertemuan pengajian itu berharga mahal. Kenapa mereka seperti itu? Karena ketika manusia berada pada puncak apa yang diinginkan manusia secara material, apa yang mereka ingini itu terpenuhi, keterkenalan, kekuasaan, uang dan hal-hal yang bendawi macam itu mereka tidak menemukan bahwa hal itu sesuai dengan hatinya.


Kemudian ada satu contoh tentang sebab terciptanya sebuah lagu, Roma Irama suatu saat adiknya meninggal dunia, pada yang sama dia harus ‘manggung’ karena kontrak telah ditandatangani, saat jenazah adiknya hendak dimakamkan dia justru harus bernyanyi. Setelah selesaipun dia harus segera terbang ke Ujung Pandang untuk melanjutkan jadwal konsernya, pada kesempatan itu saat dia berada dipanggung dia berkata,”Saya harus tertawa harus menyanyi padahal hati Saya sedih”. Dan dari situlah lahir sebuah lagu yang berjudul “Aku tertawa tapi menangis”. Seluruh kesenian yang semacam itu, sebenarnya lahir daripada penderitaan batin, sebuah penebusan terhadap dunia yang tidak menyenangkan, dan semua sastra Indonesia pasca perang itu beraliran sastra seperti itu. Apa yang disebut satra Indonesia modern adalah sebuah sastra yang sangat gandrung terhadap luka.


Lihat Merari Siregar, dialah penulis sastra modern pertama di Indonesia, penulis pertama yang bercirikan zaman baru di sastra Indonesia, dilihat dari judulnya saja sudah terlihat tragis dan penuh luka, apa judulnya? Judulnya adalah Azab dan Sengsara. Dari luarnya kita bisa melihat bahwa di Novel itu menggambarkan bahwa hidup itu penuh azab dan sengsara. Disana diceritakan tentang tokoh wanita yang bernama Maryamin, punya Bapak yang dulu kaya tetapi karena ditipu hingga menjadi miskin sehingga keluarga Maryamin jatuh miskin. Lalu si Maryamin ini jatuh cinta dengan seseorang dari  keluarga kaya yang masih ada hubungan kerabat,  saat orang yang dicintainya itu sekolah maryamin tidak bisa bersekolah karena tidak ada biaya. Sampai pada akhirnya kerabat yang dicintainya itu meneruskan sekolah ke Kota, Maryamin dengan setia menunggu kerabatnya itu.


Ternyata kerabat yang dicintainya itu dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang gadis pilhan mereka. Maka menikahlah si Abang itu, sampai pernikahanya itu Maryamin masih setia menunggu, sampai akhirnya ketika si Abang pulang kagetlah Maryamin ternyata ketika si Abang pulang sudah mempunyai istri, akhirnya si Maryamin ini mati, mati dikubur tidak ada yang mengenali, tragis. Dan bayangkan hidup macam itulah, cara pandang yang tragis itulah yang dijejalkan kepada anak-anak muda.


Jadi sebenarnya “galau” ini adalah tradisi yang dikembangkan oleh barat mengenai tragis ini, dan kita merayakanya hari ini, okelah cara-caranya berubah, lebih dramatis, lebih komedi misalkan, tetapi pada intinya sama. Dan kita percaya, bahwa peradaban macam itu tidak akan menghasilkan semangat juang yang tinggi. Ketika seorang laki-laki misalkan ditinggal kawin oleh perempuan yang dicintai saja dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mengurung diri didalam kamar selama 3 hari 3 malam tidak makan tidak mandi. Dan itu banyak terjadi, bahkan banyak yang bunuh diri, kalau seperti ini, bagaimana bisa mau diajak berjuang? Laki-laki dan perempuan macam itu akan berat ketika diajak untuk mengkaji buku Prolegomena al-Attas misalkan. Ketika diajak mungkin mereka akan berkata,“Untuk apa mengkaji Prolegomena jika berujung luka”.


Dalam sastra Indonesia, hal itu dirayakan habis-habisan, seorang penulis bernama Sapardi itu dengan terang menulis,”Ketika Adam dihukum untuk turun ke Bumi, manusia sedang diperintahkan untuk merayakan luka”. Makin kita suka dengan puisi macam itu kita makin diajari untuk mengutuki hidup. Coba kita petik sepenggal puisi sapardi,”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kayu yang tidak sempat menyampaikan cintanya kepada api yang membuat menjadikanya tiada”. Kita bayangkan, coba kita memamah hal itu setiap hari, sejak kecil. Sejak kecil karena lagu-lagu sejak kecil sudah masuk sastra Indonesia modern yang bertema tragis, coba kita cari tentang lagu zaman dulu yang bertema tentang meratapi hidup, tidak ada, sebelum sastra Indonesia modern puisi bercerita tentang optimisme, mengajari tentang bagaimana hidup, ada yang namanya pantun nasihat yang isinya itu bagus-bagus yang kalau kita baca itu kita akan menjadi semangat.


Lalu kita bandingkan dengan puisi Sitok Srengenge, baca puisinya Goenawan Mohammad, semangat apa yang bisa kita ambil selain merutuki hidup dan kalau #katatemensaya menggores-goresi hati kita sendiri. Termasuk novel Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Salah Pilih, Kalah dan Menang.


Berbeda dengan novel fenomenal “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, “Dibawah Lindungan Ka’bah” karya Ulama sekaliber Buya HAMKA, beliau menciptakan novel tersebut untuk melawan sastra-sastra tragis yang menggerus kejiwaan kaum muda. Coba kita telaah, cinta yang dipahami oleh HAMKA itu cinta kepada manusia kemudian dia panjatkan cintanya kepada islam lalu cinta paling tinggi dia serahkan cintanya kepada Allah SWT, HAMKA menaikkan derajat cinta yang kepada manusia yang kemudian menjadi cinta kepada Allah SWT. Ungkapan HAMKA yang terkenal yaitu,”Kau tahu manusia ini fana, kenapa harus mencintai yang fana, kenapa harus rela mati demi yang fana, kenapa tidak mencintai Yang Abadi dan berada dalam keabadian ini”.


Inilah Ulama islam, bercerita tentang Hamid yang menafikkan cintanya kepada manusia untuk kemudian menghadirkan cintanya kepada Allah Azza Wa Jalla ketika dihadapan Ka’bah. Sejak dulu masalah cinta masalah penderitaan hidup sudah dijelaskan dengan gamblang dan mudah oleh ulama-ulama islam. Contoh saja Imam Al-Ghazali mengingatkan,”Siapapun yang Anda cintai, Anda akan berpisah denganya”. Ada sebuah pelajaran tentang Intensification of Meaning, yaitu makin kita mendekati sebuah makna, makin kita menyadari. Kalau saja saya beri tahu bahwa dunia ini fana, dia diciptakan dengan keindahan, kenapa kita harus cinta kepada dunia ini? Atau kalau saja saya katakan secara hakekat kita memahami bahwa hidup kita akan berakhir kenapa kita masih harus mencintai dunia, menghabiskan waktu untuk mengejar pujian dari manusia. Sastra itulah yang diajarkan oleh sastrawan kita, ulama kita ulama islam yang mengerti sepenuhnya hakekat hidup, Imam Al-Ghazali, Hamzah Fanshuri, dia mengingatkan kepada anak-anak muda itu, “Lalu untuk apa mengejar dunia, toh dunia ini akan anda tinggalkan, hai muda renungilah”. Kalau kita membaca sastra-sastra macam itu maka hidup kita akan bergairah, terus bekerja karena Allah. Ada sebuah puisi yang bagus,”Setiap langkah adalah Allah, setiap ucapan adalah Allah, kemanapun kita melangkah adalah Allah”. Tetapi seseorang yang tidak memahami sangat indahnya dan bagusnya sastra ulama ini cukuplah Al-Qur’an menyebutnya “Summun Bukmun ‘Umyun Wa Hum Laa Yarji’uun”.


Puncak dari tragedi dalam sastra barat itu ada dalam tokoh yang bernama “ Si Sipus”, Si Sipus itu dia bilang,”Tugas dari manusia itu adalah mengerjakan sesuatu tanpa tahu apa tujuanya”. Jadi kita lahir ke dunia tidak perlu tahu apa tujuanya. Kita terima saja nasib kita dan jalanilah. Maka betapa buruknya pengaruh sastra barat terhadap kaum muda kita. Pun sastra Indonesia modern kita lihat bahwa sumsumnya adalah tragedi, maka sepatutnyalah kita melihat dengan kacamata itu, yaitu bahwa tragedi adalah virus yang amat menjangkit dikalangan generasi muda Indonesia sehingga perlu untuk dihindari.


Kita mendapati sebuah cuplikan dari seorang muda yang mewakili realita yaitu pandanganya tentang sebuah pengaruh lagu modern yang tragis terhadap jiwa anak-anak kita yang masih kecil,”Lewat sebuah lagu, kita pertama kali dikenalkan pada urusan tetek bengek perasaan. Dan anehnya, walaupun belum pernah merasakan secara langsung bagaimana jungkir-baliknya dunia karena cinta, sebuah lagu mampu membuat kita turut merasakan gereget perasaan serupa, kita bisa menangis saat mendengar lagu “X”, dan kitapun dipaksa untuk ikut tertawa-tawa bahagia saat mendengarkan lagu “Y”. Betapa menghancurkanya.


Dalam suatu penderitaan, orang barat akan menemukan dirinya sengsara. Sedangkan orang islam jika diberi penderitaan maka akan menemukan jati dirinya, menemukan keikhlasanya, maka itulah senjata kita yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun bahkan iblis sekalipun. Kita sama-sama tahu bahwa Iblis akan mampu mengalahkan manusia kecuali hamba yang ikhlas.


Untuk itulah, mulai sekarang ini, mulai detik ini juga, berhentilah menjejali anak-anak kita dengan sastra modern yang sumsumnya berasal dari barat yang merusak jiwa, menghancurkan batin. Baik tiu puisi, lagu, novel cerpen maupun sastra lainya. Dan istiqomahlah memberikan kisah-kisah keislaman, kata-kata hikmah, puisi maupun sastra-sastra yang berasal dari ulama islam dan tentu saja Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup yang bisa menjadi sebuah asupan spiritual jiwa anak-anak kita sehingga dahaga batiniyah anak-anak kita bisa tersegarkan dan terpenuhi, InsyaAllah anak-anak muda ketika beranjak dewasa tidak akan menjadi pemuda yang tragis yang mudah menyerah tetapi menjadi pemuda yang tangguh yang kuat serta memahami hakekat hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar