Rabu, 17 Desember 2014

Teuku Wisnu dan Fenomena Dakwah Selebritis


Penampilan baru Teuku Wisnu
Penampilan baru Teuku Wisnu



Oleh: Warsito

AKHIR-AKHIR ini masyarakat ramai membicarakan seorang artis tampan ternama tanah air, Teuku Wisnu, bukan karena dia menyiarkan secara live persalinan atau pernikahanya di sebuah TV swasta, namun karena ia sedang hangat diberitakan tentang perubahan penampilan dan sikap pribadinya yang lebih islami.

Di media sosial telah banyak orang men-shared tentang kabar dirinya yang kini lebih memilih memelihara jenggot dan bercelana ngatung. Perubahan ini mulai terlihat setelah pria yang lahir di Aceh 4 Maret tahun 1985 ini menikahi Shireen Sungkar, perubahan itu semakin kentara setelah Shireen mengandung buah hati mereka.

Sejenak kita merenungi apa yang tengah dialami Teuku Wisnu, tentu kita sama tahu tentang Teuku Wisnu ini, artis tampan Ibukota yang terkenal lewat sinetron “Cinta Fitri” yang tayang disebuah stasiun televisi swasta, sebuah sinetron dengan episode terpanjang di Indonesia. Sinetron tersebut diperankan dengan lawan mainya yaitu Shireen Sungkar yang kini telah menjadi istrinya.

Berita macam ini tentu tak akan heboh sehingga media tak ingin tertinggal apabila yang mengalaminya adalah tetangga kita yang bernama Parjo misal. Dan kita tak akan heran jika para ustadz artis yang sering nongol di TV memelihara jenggot dan bercelana tidak Isbal karena memang sudah sepatutnya. Tetapi ini menimpa seorang artis ternama yang notabene aktor tampan yang digandrungi dari ibu-ibu komplek sampai ibu-ibu di pedesaan.

Amat jarang terjadi seorang artis yang memilih untuk merubah penampilanya agar lebih terlihat Islami, merubah sikapnya agar lebih menjauhi kontroversi demi mendongkrak popularitasnya yang sering dilakukan para artis yang mulai kehilangan job tayang di TV. [baca: Berjenggot, Teuku Wisnu Dapat Banyak Pujian]

Hal senada telah lebih dulu dijalani seorang artis yang lebih dulu memilih jalan Islam, sebut saja Sakti yang dulu adalah seorang penggebuk drum Sheila On 7, karena pilihanya untuk mendalami Islam dan berhenti dari dunia musik, dia tidak lagi menjadi perbincangan dan kehilangan namanya di dunia hiburan tanah air. Sakti bergabung dengan gerakan yang dikenal dengan nama Jama’ah Tabligh (JT).

Fenomena artis yang memilih untuk lebih dekat Islam adalah kemenangan tersendiri bagi para aktivis dakwah, di saat aktivis dakwah amat jenuh melihat degradasi moral anak bangsa, maraknya kristenisasi dan aliran sesat macam Syiah dan JIL yang semakin kentara perlawananya terhadap dien (agama, red) ini.

Melihat bahwa artis ada yang memilih jalan Islam tentu menjadi penyemangat bagi aktivis, di tengah-tengah kerusakan akhlak ternyata masih ada artis yang merubah penampilanya lebih islami, berfikir bahwa artis saja paham akan jalan ini, kenapa kita justru menyerah? Maka semangat yang sempat luntur kini mulai bangkit dan lebih segar lagi. 

Hal berani itu telah dilakukan seorang Teuku Wisnu, hal macam itu tentu akan mempengaruhi karirnya di dunia perfilman tanah air. Nama besarnya akan meredup atau diredupkan karena para pelaku dunia hiburan akan enggan menawarkan job kepada artis yang macam itu. Sebab yang sering terjadi adalah seorang artis akan kehilangan job jika dia berpenampilan islami, karena tidak ‘menjual’ dan industri hiburan tentu melihat hal macam itu tidak disukai pasar.

Tidak usahlah jauh-jauh, kita ambil contoh di sekitar kita, para pemuda-pemudi itu kalau mereka melihat ada orang yang berpenampilan macam Teuku Wisnu, berjenggot dan bercelana nggantung saja mereka mentertawakan atau memandang sinis.



Teuku Wisnu Bersama Kawan-Kawan
Teuku WIsnu (no 3 dari kanan) bersama komunitas pengajiannya di Jakarta



Jiwa ‘keislaman’ Teuku Wisnu sebenarnya memang sudah tertanam dalam dirinya, sejak awal kemunculanya di layar kaca, tak pernah terdengar dia diberitakan dengan kabar yang miring.

Latar belakangnya yang berasal dari Aceh mungkin menjadi satu dari sekian banyak alasan. Orang Aceh memang terkenal dengan kuatnya jiwa Islam mereka, penduduk yang sejak dari zaman kerajaan Islam Nusantara. Di sana pula berdirinya kerajaan Islam pertama Nusantara yaitu Kesultanan Samudera Pasai, lebih lanjut lagi perjuangan para mujahid dan mujahidah Cut Nyak Dien dari penjajahan para kape-kape Belanda seolah mengakar kuat tentang masyarakat Aceh yang berpegang kuat dengan Islam.

Fenomena perubahan Teuku Wisnu mendapat respon positif dari masyarakat, banyak yang memujinya terutama dari para fans. Hal ini memberi isarat bahwa hidayah itu bisa menyentuh siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petnjuk, Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al An’am 6: 125)

Sementara orang yang tidak mendapatkan hidayah-Nya, akan merasa malas dalam beramal saleh dan tidak merasa bersalah kalau berbuat maksiat.

Fenomena ini diharapkan bisa menjadi pemacu dan daya tarik untuk para pemuda bangsa agar bisa mengambil ibrah dari fenomean Teuku Wisnu dengan cara hidup mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Kita patut bersyukur dengan hal ini, di saat para artis berjingkrak-jingkrak di atas panggung dengan ditemani wanita, alkohol, minuman keras (Miras) dan obat terlarang, Teuku Wisnu justru sedang sibuk memperbaiki diri dengan amalnya.

Di tengah gencarnya media memberitakan perubahan baik Teuku Wisnu, apakah nama nya akan “diredupkan” oleh dunia hiburan dan akan hilang layaknya Sakti Sheila On 7? Ataukah justru menjadi bahan pemberitaan yang menarik di televisi?

Mari kita tunggu perjalannya ke depan. Yang harus kita lakukan adalah mendoakan semoga akan lebih banyak lagi artis seperinya di tanah air menjadi lebih baik. Kepada Teuku Wisnu kita doakan agar tetap istiqomah menjadikan Islam dan sunnah sebagai pegangan hidup, amin.*

Penulis adalah Mahasiswa Sistem Informasi 2012 di STT Terpadu Nurul Fikri dan penggiat DISC Masjid UI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar