Senin, 18 April 2016

Tentang Buku Kumpulan Cerpen "Di Dalam Gubuk Orang-orang yang Menderita"



Di Dalam Gubuk Orang-Orang yang Menderita Karya Musthafa Luthfi al-Manfaluthy
Di Dalam Gubuk Orang-orang yang Menderita Karya Musthafa Luthfi al-Manfaluthy (dokumentasi pribadi)

Oleh: Warsito

Buku ini adalah salah satu karya Musthafa Luthfy al-Manfaluthy (selanjutnya al-Manfaluthy saja) yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang. Buku ini dicetak tahun 1979, sangat jadul. Cerpen-cerpen al-Manfaluthy dalam buku ini bagus secara kerunutan cerita dan enak dibaca. Beliau menyajikan cerita dengan gaya yang menarik. Tidak aneh jika karya-karya al-Manfaluthy kemudian bisa masuk ke Indonesia melalui terjemahan dan kemudian bisa dibaca secara luas.
al-Manfaluthy dikenal sebagai sastrawan dan penyair yang tetap mempertahankan identitas sastra timur. Dalam karyanya akan banyak kita temui pesan-pesan mulia yang sesuai dengan syari’at Islam. Beliau seringkali mengkritik akhlak yang tidak sesuai dengan syari’at Islam yang seharusnya tidak dilakukan oleh ummat Islam. Mungkin karena pengaruh kondisi masyarakat saat itu sehingga beliau mengkritiknya, atau memang gaya penulisan beliau yang khas seperti itu.
Salah satu pesan menarik yang saya temui dalam buku ini yaitu dalam cerpen yang berjudul Di Dalam Gubuk Orang-Orang yang Menderita. Cerpen ini menceritakan tentang kemiskinan yang dialami oleh sepasang suami istri. Yang seorang perempuan bernama Mary, istri dari seorang nelayan yang bernama Philip. Meski kemiskinan menjerat kehidupan mereka, tetapi hal itu tidak membuat mereka melupakan akhlak yang baik. Kepedulian kepada sesama tetap mereka pegang secara teguh. Hal tersebut mereka buktikan dengan mengasuh dua orang anak kecil yang telah yatim piatu. Meninggalnya kedua orang tua mereka secara tragis membuat Mary iba dan memutuskan untuk merawat dan membesarkan mereka. Meskipun Mary juga mempunyai dua orang anak yang masih kecil pula, dan mereka juga dalam kesusahan dalam membesarkan kedua anaknya tersebut, tetapi hal itu rupanya tidak menjadi hambatan untuk melaksanakan niat mulianya itu. Kemuliaan hati Mary mendapat sambutan yang baik dari sang suami Philip. Berkat kepedulian mereka itulah kemudian hati mereka menjadi bahagia karena telah mengambil keputusan yang tepat.
Dalam cerita ini al-Manfaluthy ingin menyampaikan bahwa di dalam gubuk orang-orang yang menderita masih ada rasa peduli terhadap sesama. Sudah sepatutnya hal tersebut dicontoh oleh semua orang khususnya mereka yang berasal dari golongan berada. Kritik sosial dari cerita ini adalah untuk para orang-orang yang berada di pemerintahan yang memegang jabatan, juga untuk orang-orang golongan menengah ke atas. Sudah selayaknya mereka tak acuh atas kehidupan para nelayan yang miskin. Sudah saatnya para nelayan dan orang-orang miskin itu dibantu dan jangan menutup mata atas penderitaan mereka.
Pesan menarik lainnya yaitu dari cerpen yang berjudul Hari Raya. Cerpen ini berada di nomor urut dua dalam daftar isi buku ini. al- Manfaluthy menulis bahwa pada saat malam hari Raya datang, maka terbitlah dua bintang: bintang kebahagiaan dan bintang kesedihan.
“Yang telah menyiapkan pakaian dan makanan yang bermacam-macam mainan untuk anak-anak mereka, dan hidangan yang lezat untuk tamu-tamu mereka. Pada malam hari Raya itu mereka tidur dengan nyenyaknya, dibuai oleh mimpi-mimpi yang indah mengenai sekalian anggota keluarganya, seolah-olah mimpi-mimpi itu beterbangan di sekitar rumah-rumah mereka, seperti burung merpati yang beterbangan di sekitar taman bunga yang menghijau. Sedang bintang yang kedua terbit untuk orang-orang yang malang, yang melewatkan malam hari Raya itu dengan berbaring di tempat tidur yang rasanya panas seperti bara, merintih disana dengan ratapan yang dapat menyebabkan hancurnya hati, dan batu yang keras pun dapat meleleh, karena sedih memikirkan anak-anak mereka, meminta dengan tangan dan matanya, apakah yang sudah disediakan oleh ayah-ibunya untuk menghadapi hari Raya itu, entah pakaian yang akan dapat mereka banggakan di hadapan teman-temannya, atau mainan bagus-bagus untuk menghias meja tamu mereka…..sedang ayah-ibunya hanya dapat berjanji dan berjanji…..walaupun nyatanya janjinya itu tak kunjung ditepati.”

al-Manfaluthy kemudian memberikan sebuah pesan nasihat,
“Maukah gerangan orang-orang yang berbahagia itu mengulurkan tangan kebajikan dan baik hatinya kepada saudara-saudaranya, melimpahkan sedikit kebahagiaan yang mereka terima sebagai pemberian Ilahi, agar dengan demikian mereka mencetak ukiran kebaikan dan peri kemanusiaan untuk dirinya…”
Beliau memberi pesan agar kita tidak melupakan orang-orang miskin, terutama anak-anak mereka. Ketika hari Raya itu tiba, mereka juga menginginkan banyak hal seperti yang dirasakan oleh anak-anak lainnya. Baju baru, mainan dan juga hidangan makanan lezat..

Dalam dua penggalan cerita tersebut kita dapati banyaknya pesan moral yang mulia dari seorang al-Manfaluthy. Sastra timur semacam ini kini mulai jarang kita jumpai, baik dari segi keindahan bahasa maupun kritik sosial mengenai kondisi masyarakat saat ini.

al-Manfaluthy dan Buya HAMKA

al-Manfaluthy merupakan sastrawan Mesir yang karyanya banyak dibaca dan menjadi rujukan Buya HAMKA dalam membuat novel. Sastrawan Mesir yang lahir pada 1876 dan meninggal tahun 1924 ini dikenal luas dan karyanya diakui banyak kalangan. Terbukti Buya HAMKA berhasil membuat beberapa novel yang bagus dan tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja novel Dibawah Lindungan Ka'bah yang sudah masuk layar lebar, Merantau ke Deli dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck yang juga telah dibuat filmnya.
Khusus novel Tenggalamnya Kapal van der Wijck karya Buya HAMKA, Pram menyebutnya sebagai sebuah plagiasi. Novel Tenggalamnya Kapal van der Wijck disebut mirip sekali dengan novel Magdalena versi Arab karya al-Manfaluthy. Pram yang Lekra sudah sejak dalam pikiran itu, bersitegang dengan para sastrawan Manifesto Kebudayaan. HB. Jassin mewakili suara lembaga tersebut, beliau beserta kolega membela Buya HAMKA dan membantah fitnah bahwa novel tersebut plagiat. Mereka saling adu argumen lewat surat kabar. Perang intelektual lewat tulisan yang wajar karena memang keduanya memiliki kualitas.
Terlepas dari polemik sastra yang disebut-sebut sebagai polemik sastra terbesar sepanjang sejarah sastra di Indonesia tersebut, bagaimanapun juga al-Manfaluthy telah membuktikan diri bahwa karyanya memang patut menjadi rujukan dalam membuat sebuah karya sastra yang bercirikan sastra timur atau Islam. Sastra Islam yang menyampaikan pesan moral atau akhlak yang mulia membuat nilai-nilai Islam akan lebih meresap lewat cerita-cerita pendek atau novel yang disajikan sastrawan sejati seperti al-Manfaluthy. Hal ini diharapkan bisa memperbaiki kondisi masyarakat yang sedang mengalami penurunan moral Agama.
Saat ini sosok seperti al-Manfaluthy dan Buya HAMKA belum lagi muncul. Ulama sekaligus sastrawan besar. Mungkin penerus atau penganut sastra Realisme-Sosialis ala Pram masih terus tumbuh dan memiliki sosok dan wakil mereka hingga saat ini. Tapi belum ada lawan dari ummat Islam, yang menjadi wakil dari sastra timur atau sastra Islam. Sampai saat ini kita masih menunggu sastrawan yang lahir membawa kebangkitan sastra timur yang sangat bercirikan Islam seperti al-Manfaluthy ini. Karena kita telah bosan memamah sastra yang terpengaruh oleh sastra Barat yang penuh dengan tragedi.


Margonda,  18 April 2016

2 komentar:

  1. Mau jual ga mas.. aku suka bgt krgn mustafa.. koleksiku hanya itu aja yg blon ada. Mksh sblmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru balas, buku ini masih banyak di Penerbit Bulan Bintang Jakarta, silahkan cari kontaknya soalnya saya ga punya hehe, atau langsung datang ke tempatnya juga bisa.

      Hapus