Selasa, 23 Februari 2016

Ustadz Musholli: Orang yang Berjiwa Besar Akan Lapang Menghadapi Goncangan

Oleh: Warsito



Tahun 2015 lalu kampus STT-NF memulai program mentoring gabungan. Dimulai semester genap lalu dan kini telah memasuki kegiatan yang kedua. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali para mahasiswa sebelum memulai kembali kegiatan perkuliahan. Meski tidak dihadiri oleh mahasiswa baru, yaitu hanya diikuti oleh mahasiswa tingkat 2, 3 dan 4, tetapi kegiatan yang dilaksanakan pada hari Rabu (16/09) lalu ini cukup banyak yang mengikutinya.

Bertempat di Auditorium PPSDMS Regional 1 Wilayah Jakarta, Ust. Musholli menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada para mahasiswa. Seperti biasa, beliau menyampaikan ceramah yang selalu segar, menyentuh dan sesekali diiringi dengan letupan-letupan tawa. Ketua Yayasan Nurul Fikri ini memberi pesan bahwa manusia itu akan lebih disenangi jika ia berlaku lemah lembut. Beliau mengibaratkan seorang bayi, manusia yang tanpa dosa akan cenderung menyenangkan. Lain halnya dengan orang-orang yang hatinya diliputi oleh kebencian dan perilakunya kasar, ia akan dijauhi oleh manusia di sekitarnya. Demikian pesan beliau.



Berjiwa Besar, Berhati Lapang
Orang yang beruntung adalah orang yang mampu mengoptimalkan kebaikan, dan meminimalisir keburukan. Demikian pula sebaliknya, orang yang rugi adalah ia yang enggan berbuat baik. Hal tersebut merupakan tafsir surat Asy-Syams ayat 9 dan 10 yang beliau paparkan. Kemudian beliau mengutip arti dari ayat tersebut yaitu; “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. Manusia lahir dengan memiliki dua potensi, yaitu potensi malaikat dan potensi syetan. Maka sudah seharusnya kita mengoptimalkan potensi malaikat ini. Hal senada pernah penulis dengar, bahwa malaikat amat iri kepada manusia, karena sebagian manusia  itu ada yang amalan ibadahnya melebihi malaikat. Dan terkadang iblis merasa malu, ketika melihat sebagian manusia ternyata ada yang lebih buruk perbuatanya dibanding iblis ini.

Lebih jauh Ust. Musholli kemudian menyampaikan tentang manusia yang berjiwa besar dan manusia yang berjiwa kerdil. Manusia yang berjiwa besar, menurut beliau, ialah manusia yang lebih lapang dan siap ketika menerima goncangan. Setiap musibah, cobaan dan masalah yang datang kepadanya, ia hadapi dengan tenang dan lebih menerima. Ia akan memandang suatu masalah sesuai dengan kadar masalah tersebut. Tidak membesarkan suatu masalah yang kecil. Pun sebaliknya, manusia yang jiwanya kerdil, ia tidak siap mengatasai masalah yang datang kepadanya. Ia cenderung memandang semua masalah menjadi besar, masalah yang hakikatnya amat sepele kemudian ia besar-besarkan. Kemudian beliau memberi contoh, mengenai kejadian yang sebenarnya kecil tapi banyak yang meresponnya secara berlebihan. Seperti nilai tukar rupiah yang anjlok dan nilai dollar naik dan sebagainya.

Maka bukan tidak mungkin, manusia ini bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi. Karena manusia terlahir dengan dua potensi yang telah dipaparkan diatas. Sudah saatnya kita memulai memperbaiki diri. Sehingga orang-orang disekitar kita bisa lebih menyukai dan menerima kehadiran kita setiap saat. Orang yang berjiwa lemah lembut, maka wajahnya terlihat lebih bersinar dan terlihat menyenangkan. Hal ini karena wajah itu memancarkan kesucian jiwanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajah merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi jiwa yang bersih akan tergambarkan lewat wajah itu, yang biasa disebut dengan istilah Inner Beauty.



Kisah Pemabok yang Ingin Shalat Subuh
Sudah jamak diketahui bahwa orang-orang Betawi memiliki kultur humor yang cerdas. Setiap budaya di Indonesia memang mempunyai lawakan-lawakan yang baik. Sebutlah orang-orang Sunda, Madura, Papua dan Jawa. Lawakan yang tetap menjaga pola pikir kita. Bukan jenis lawakan yang sering muncul di Televisi saat ini, lawakan yang rendah. Lawakan atau humor yang baik inilah yang juga dimiliki oleh orang Betawi. Salah satunya disampaikan oleh Ust. Musholli yang juga keturunan asli Betawi ini. Yaitu kisah tentang seseorang yang sedang mabuk, tetapi ia ingin ikut sholat subuh. Ketika ia sudah masuk masjid, ia dicegah oleh salah seorang jama’ah. Kemudian terjadilah dialog antara si pemabok dan salah seorang jama’ah sholat subuh itu.

A (pemabok)
B (salah seorang jama’ah)
A: (masuk masjid)
B: “Lu mau ngapain?”
A: “Mau sholat shubuh lah”
B: “Pan lu lagi mabok, ya ngga boleh sholat shubuh lah”
A: “Engga gua ngga mabok ko, gua mau sholat shubuh”
B: “Coba sini gua tes dulu”
A: “Yaudah”
B: “Sholat shubuh berapa rakaat?”
A: “….nggg…” (mikir keras, @#$%??? Senyum senyum….mesem mesem….#$%%^… dengan haqqul yakin lalu pemabok itu menjawab) “ya tiga rakaat lah”
B: “Ah lu lagi mabok lu, udah sono pulang aja”

Dengan sedikit bingung si pemabok itupun pulang. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu si Ahmad dan terjadilah dialog:

A          : “Mat, mau kemane lu?”
Ahmad: “Mau sholat shubuh”
A          : “Coba gua tanya dulu ya, sholat shubuh itu berapa rakaat?”
Ahmad: “Ya dua rakaat lah”
A          : “Yah mending pulang aja deh, gua yang jawab tiga aja disuruh pulang, apalagi cuma dua”
Ahmad: “….@##$%%%$%#@!....”




Hikmah dari cerita diatas adalah bahwa niat yang baik, harus dengan cara yang baik pula. Dan mabok itu tidaklah baik, ia adalah salah satu sumber dari kejahatan lainnya. Dikarenakan saat mabok itu akal si pemabok tidak bisa ia kendalikan. Ia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik dan tidak mengerti apa yang ia ucapkan sendiri. Begitulah, meski kita tidak bisa membuat semua orang akan menyukai kita, tetapi melakukan perubahan untuk tetap berbuat baik, berjiwa besar dan mengoptimalkan kebaikan, juga menjauhi perbuatan buruk dan kasar harus senantiasa diusahakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar